![]() | |
| mebel yadino |
Jumat, 05 Februari 2016
Sabtu, 19 Desember 2015
Selasa, 08 Desember 2015
BELAJAR FOTOGRAFI
Senin, 25 Mei 2015
Enakkan mana? Jadi Ustadzah apa Santriwati?
Enakkan mana? Jadi ustadzah apa santriwati?
Al-Mawaddah,
ketika muwajjahah malam kami membentuk lingkaran kecil untuk belajar bersama.
Muwajjahah berjalan dengan baik, antusias santriwati dalam belajar terlihat
menggebu-gebu menyongsong ujian akhirussanah yang akan mereka hadapi sebentar
lagi. Sampai akhirnya ku pandangi wajah-wajah yang tadinya berseri itu, mulai
meredup oleh totokan (ngantuk di paksakan). Ngantuk itu memang ciri khas
santri,,hehehe. Kemudian ku buka sesi rohah, biar otot tidak tegang, pikiran
tenang, ngantuk hilang.
“ustadzah hikayah,,,” rayu mereka. “ayyu hikayatin?” jawabku.
“Masi’tum ustadzah…” kata mereka. (gubrak). Panjang lebar ku cerita kan
sepak terjang selama menjadi santriwati untuk memotivasi. Tiba-tiba keluar
sebuah pertanyaan dari seorang santriwati. “ Ustadzah, ahsan sirtum ustadzah am
tilmidzah?”(Ustadzah, enakkan jadi ustadzah atau santriwati?). Agak
kaget juga mendengar pertanyaan itu. Lalu ku balas dengan senyuman.
Pertanyaan luar biasa dari anak kelas 1, yang besar rasa ingin
tahunya. Menarik saya untuk menjawabnya. Pertanyaan yang membuatku kembali
mengenang indahnya masa lalu dari menjadi santriwati baru, modabiroh,
munadzomah, sanah nihaiyyah hingga menerima embanan amanah suci pengabdian.
Tentu banyak hal yang di rasakan di kampung damai ini. Tidak hanya kenangan,
tapi hingga detik ini pun, aliran kesejukan itu masih terasa. Kedamaian
mendengar jaros (lonceng) yang bergelontang mengendalikan segala
aktifitas santriwati. Melihat dan mendengar celotehan santriwati adalah obat
pelipur hati. Sungguh tak terbayangkan sebelumnya, aku bisa bertahan sampai
detik ini.
Kembali ke pertanyaan awal, enak mana? Jadi ustadzah apa
santriwati?.
Memang hidup penuh pilihan adakalanya kita tunduk dengan apa yang
ada di depan mata. Namun tidak sedikit pula kesempatan yang kita dapatkan untuk
memilih jalan yang akan kita tempuh. Pilihan itu ada di tanganmu sendiri !.
Ketika amanah itu diberikan rasanya campur aduk, antara sedih dan senang. Sedih
karena tidak bisa melanjutkan kuliah di luar dan tidak bisa berkumpul dengan
keluarga. Senang karena merasa terpilih dan teristimewa dengan pengabdian.
Tidak hanya itu, kegalauan mulai menerpa ketika di hadapkan dengan keputusan
lanjut kuliah sambil ngabdi atau pending satu tahun. Pengabdian 1 tahun atau 4
tahun. Semuanya butuh proses, butuh pertimbangan. Jika ngabdi 1 tahun bisa
focus pengabdian namun telat masuk kuliah, jika ngabdi sambil kuliah harus
konsekuen dengan segala tugas pondok dan tugas kuliah. Itulah proses yang
mendidik kami (ustadzaat), sebagai ustadzah itu juga sebuah pendidikan.
Ustadzah dan santriwati sama-sama dididik di pesantren putri
Al-Mawaddah tercinta ini. Yang membedakan adalah tugas. Ustadzah menjadi
pendidik uswatun hasanah, dengan segala prosesnya untuk mencapai sandang ustadzah.
Ustadzah mencurahkan semua waktu dan tenaga demi mencetak kader umat yang luar
biasa. Sedangkan santriwati adalah anak didik yang dididik dan dibina agar
menjadi mar’atus sholihah, alimah, dan tangguh di era global. Jika di katakana
enak mana ?. Semua punya tugas dan kewajiban masing-masing, rasa enak itu
tergantung pada yang menjalankan. Jika tugas ustadzah di jalankan dengan penuh
keikhlasan sebagai amal jariah dan demi mencapai ridlo ilahi. Semua akan
berjalan dengan enak, nyaman dan menyenangkan.
Bagiku awal pengabdian memang terasa kurang enak, karena memang
bukan pilihanku dan belum meresapi sepenuhnya arti pengabdian. Namun lambat
laun semakin banyak tugas pengabdian, rasa kebahagiaan itu semakin merekah.
Segalanya terasa indah. Alhamdulillah. Banyak pendidikan dan pengalaman yang
tidak semua orang bisa merasakannya. Dari bangun, tidur, sampai bangun lagi,
semua adalah pendidikan. Jadi mudarisah, musyrifah, ibu, kakak, dan masih
banyakkk lagi yang tak akan cukup jika disebutkan satu persatu. Kami dididik
untuk mendidik, karena kami adalah wanita. Madrosatul ‘ula untuk agama dan
bangsa. Kemajuan bangsa tergantung
pada wanita. Subhanallah… (asr)
Rabu, 06 Mei 2015
UKHUWAH ISLAMIYAH SUMMER CAMP 2015 di PESANTREN PUTRI AL-MAWADDAH
COPER- Desa kecil di sebelah selatan ponorogo. Sebuah daerah yang asing bagiku bahkan kotanya pun juga asing bagiku. Tak ada saudara ataupun teman , aku datang atas hidayah yang tak pernah ku bayangkan sebelumnya. Waktu terus berjalan hingga tak terasa aku sudah berjuang di Pesantren Putri Al-Mawaddah Coper hampir 6 tahun lamanya. Aku berjuang untuk menuntut ilmu di jalan Allah. Apa yang dulu kutinggalkan baik keluarga dan teman-teman di rumah. Kini telah tergantikan oleh wajah-wajah baru dari berbagai suku dan kebudayaan. Memang tak mudah untuk memahami karakter seseorang apalagi di tambah dengan latar belakang dan adat yang berbeda. Namun dengan ukhuwah islamiyah yang selalu ditanamkan pada diri kami, kami pun menyatu saling bahu-membahu untuk meraih kesuksesan bersama.
Dan salah satu pemersatu kami adalah Summer Camp. Kegiatan ini barupa kegiatan pramuka khusus di ikuti oleh santriwati baru baik dari kelas 1 maupun 1 Pintas. Supaya mereka lebih mengenal satu sama lain dan meleburkan perbedaan-perbedaan. Summer Camp memberikan banyak sekali manfaat dalam diri pesertanya selain memperluas pengetahuan pramukanya, kegiatan ini juga dapat mempererat ukhuwah islamiyah. Kebersamaan ini tak kan pernah terlupakan.
Senin, 04 Mei 2015
AMANAH ITU IBADAH @ISYFAQIHA 623
Ba'da tandhiful'am, tiba-tiba terlintas sebuah kalimat cuplikan dari
lirik lagu senandung Al-Mawaddah "Semakin berat smakin semangat,
Yang harus di emban". Banyak hal baru yang dapat diambil sebagai
pelajaran hidup, namun juga tidak sedikit masalah baru yang muncul dan
harus dipecahkan. Waktu dan pengalamanlah yang membawa seseorang ketitik
tertentu, suatu titik keadaan yang tak pernah terbayangkan sebelumnya.
Dari titik itulah bimbingan dan pengarahan mengalir diringi tindakan
terbaik. Hingga "pergantian" itu pasti akan dialami, tentu tak mudah
untuk menjalankannya namun "semangat" adalah kunci keberhasilan. Jangan
merasa terbebani, jadikanlah amanah sebagai ladang ibadah.
PENYESALAN UNTUK SEBUAH PELAJARAN
Waktu dulu ku tak pernah berfikir akan menjadi begini
Tapi saat semuanya berubah
Kau jauh dari ku dan aku baru menyadarinya
Mungkin memang ku salah dan ku sesali
Pernah tak hiraukan hal itu dulu,,,
Aku hanya ingkari kata hatiku yang masih tak menentu
Tapi mengapa kesadaran ini datang terlambat?
Maafkan aku yang gegabah dalam mengambil keputusan
hingga mengorbankan yang seharusnya ku pertahankan
Kini ku hanya bisa bertahan dan berusaha yang terbaik
ROBBANAA AFRIGH 'ALAINAA SHOBRON WA TSABBIT AQDAMANAA WANSHURNAA 'ALA QAUMIL KAAFIRIIN
“Ya Rabb kami, limpahkanlah kesabaran atas diri kami, dan teguhkanlah pendirian kami dan tolonglah kami terhadap orang-orang kafir”
(QS. Al Baqoroh: 250)
Langganan:
Postingan (Atom)


