Sabtu, 19 Maret 2016

Mengapa Pemerintah dan Muhammadiyah sering berbeda dalam menentukan Awal dan Akhir Ramadhan?

Mengapa Pemerintah dan Muhammadiyah sering berbeda dalam menentukan Awal dan Akhir Ramadhan?
Tak dapat dipungkiri, perdebatan dan perbedaan mengenai penetapan awal puasa ramadhan maupun awal Idul Fitri hampir setiap tahun terjadi. Hampir setiap tahun kaum muslimin disibukkan dengan masalah “kapan memulai puasa dan kapan berhari raya?”. Para pemimpin dan pengurus ormas-ormas Islam seperti NU, Persis, dan Muhammadiyah serta organisai lain disibukkan berijtihad untuk memastikan kapan puasa tahun itu dimulai dan berakhir, sementara masyarakat dibingungkan dengan berbagai keputusan yang dibuat lembaga-lembaga Islam yang terkadang keputusannya berbeda-beda. Bahkan akhir-akhir ini masyarakat sering dikacaukan oleh seruan untuk memulai puasa atau berhari raya dengan berpedoman pada awal puasa dan idul fitri di Saudi Arabia.
Tidak jarang karena perbedaan-perbedaan tersebut, timbul gesekan-gesekan di masyarakat. Masing-masing individu menganggap benar apa yang diputuskan oleh ormas yang diikutinya dan menganggap salah terhadap yang lain, tanpa mereka tahu apa sebetulnya yang dijadikan ukuran sebagai penentuan awal dan akhir puasa oleh masing-masing ormas dan lembaga-lembaga Islam tersebut.
Tak sedikit pula rakyat atau masyarakat yang kurang paham dengan hal tersebut menjadi "bermusuhan" hanya gara-gara hal tersebut. Mudah-mudahan Anda yang sudah membaca artikel berikut ini bisa memahami mengapa terjadi perbedaan tersebut.
Hal yang perlu diketahui dalam kalender hijriah dan perbedaanya dengan Masehi.
Jumlah hari dalam Kalender Hijriah adalah 29 atau 30 hari, sedangkan masehi adalah 30 atau 31 hari, kecuali Februari 28 hari (29 hari jika tahun kabisat yang terjadi tiap 4 tahun sekali)
Aturan penanggalan Hijriyah adalah berdasarkan edar bulan sedangkan Masehi adalah matahari
Jumlah satu tahun adalah 12 bulan.
Beberapa cara penentuan awal bulan (hijriyah) baru.
A. Rukyat/ Metode Hilal
Metode Rukyat adalah dengan melihat Hilal atau suatu cara untuk menetapkan awal bulan, rukyat dapat dilakukan dengan mata telanjang atau dengan alat bantu optik seperti teleskop. Rukyat dilakukan setelah Matahari terbenam. Hilal hanya dapat dilihat sesaat setelah Matahari terbenam (maghrib), karena intensitas cahaya hilal sangat redup dibanding dengan cahaya Matahari, serta ukurannya sangat tipis. Bila cuaca mendung/buruk, sehingga bulan tidak dapat dilihat, maka hendaklah menggunakan istikmal (menyempurnakan bilangan bulan Sya’ban menjadi 30 hari). Teknik ini sudah dipakai sejak Zaman Rasulullah SAW dan Khulafaur Rasyidin, hanya saja tidak memakai alat bantu seperti teleskop, karena memang saat itu belum ada. tinggi hilal di atas ufuk adalah minimal dua derajat, baru bisa dikatakan awal bulan baru. Oleh karena itu, apabila posisi hilal kurang dari dua derajat tidak imkan dirukyat dan tidak bisa ditetapkan sebagai awal Ramadhan dan awal Syawal, sehingga awal ramadhan dan awal Syawal ditetapkan pada hari berikutnya
B. Metode Hisab
Penetapan dengan hisab melalui pendekatan wujudul hilal.
Artinya awal Ramadhan dan awal Syawal ditetapkan berdasarkan perhitungan hisab asalkan posisi hilal berada di atas ufuk berapa pun derajat tingginya, walaupun kurang dari 0,5 derajat, dan walaupun hilal tidak dapat dilihat dengan mata kepala, karena yang penting hilal sudah wujud. Jadi rukyatul hilal bil fi’li tidak perlu dilakukan dalam penetapan awal atau akhir bulan.
Hisab bisa juga dikatakan adalah suatu cara untuk menetapkan awal bulan Ramadhan, dengan menggunakan perhitungan secara matematis dan astronomis untuk menentukan posisi bulan dalam menentukan dimulainya awal bulan pada kalender Hijriyah.
Dalil-dalil yang digunakan oleh Ahli Hisab dan Rukyah
a. Dalil Ahli Hisab
èDia-lah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan hak. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang mengetahui.
Surah Yunus ayat 5
b. Dalil Yang Digunakan Oleh Ahli Rukyat
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم صوموا لرؤيته وافطروا لرؤيتة فإن غبي عليكم فاكملوا عدة شعبان ثلاثين (رواه البخاري)
Rasulullah Saw bersabda “Berpuasalah dengan melihat hilal dan berbuka (berhariraya)lah dengan melihatnya pula. Jika (hilal)terhalang (awan) hingga kalian tidak dapat melihatnya, maka genapkanlah bilangan bulan Sya’ban menjadi 30 hari” (HR. al-Bukhari)
عن بن عمر رضي الله عنهما أنَّ رسول الله صلى الله عليه وسلم ذكر رمضان فضرب بيده فقال الشهر هكذا وهكذا ثم عقد إبهامه في الثالثة فصوموا لرؤيته وافطروا لرؤيتة فإن أُغْمي عليكم فاقدروا له ثلاثين (رواه مسلم)
Dari Ibn Umar ra, sesungguhnya Rasulallah Saw menceritakan Ramadhan, kemudian memukulkan tangannya, kemudian bersabda “Sebulan itu adalah sekian dan sekian, kemudian beliau melengkungkan ibu jarinya pada perkataan yang ketiga, maka berpuasalah kamu karena melihat hilal, dan berbukalah (mengakhiri puasa) kamu karena melihat hilal. Jika hilal tertutup oleh awan, maka pastikanlah bilangan hari pada bulan itu lamanya menjadi 30 hari” (HR. Muslim).
Mengapa Muhammadiyah dan NU sering berbeda dalam menentukan awal Ramadhan dan awal Syawal?
Menurut saya ada beberapa alasan;
1. Ormas Muhammadiyah dalam menentukan awal bulan baru menggunkan metode hisab. Metode hisab biasanya sudah bisa diramalkan jauh-jauh hari. Berbeda dengan NU / pemerintah, menggunakan metode rukyat, yang artinya hilal bulan baru jika berada di atas 2 derajad di atas ufuk. dan baru tidak bisa diramalkan jauh hari sebelumnya alias mesti dilihat atau dipraktekkan pada hari yang dianggap hilal akan muncul.
2. Muhammadiyah menggunakan metode hisab tidak lain tujuannya adalah agar kita selaku umat Islam tidak perlu direpotkan lagi dengan melihat hilal. Toh ilmu astronomi sekarang sudah sangat canggih, sehingga pergerakan benda angkasa ataupun misalnya gerhana bulan dan matahari sudah bisa diramalkan waktu dan tempatnya dengan tepat. Selain itu, mereka beranggapan seandainya seluruh dunia misalnya gelap ataupun tertutup awan, mustahil hilal dapat dilihat, terlebih daerah-daerah yang sarana komunikasinya belum terjangkau dengan baik.
3. Pemerintah, selama puluhan tahun berpegang pada metode rukyat. Bagaimanapun pemerintah, dalam hal ini Kementerian Keagamaan tentu memiliki alasan-alasan tertentu dalam memakai metode ini. Toh alat sudah semakin canggih( misalnya teleskop atau teropong), rasanya tidak repot-repot amat untuk melihat bulan baru. Media komunikasi massal dan global sudah banyak dimiliki masyarakat, seperti Handphone dan Televisi, sehingga berita dapat disosialisakan dengan cepat.
Bagaimana? Yaah, mudahan kita bisa memahami perbedaan tersebut. Tak perlu ada perdebatan yang sengit jika kita selaku umat Islam paham mengenai hal ini. Tak perlu lagi kita gontok-gontokkan. Silakan ikuti yang mana, pemerintah atau Ormas Muhammadiyah, NU, PERSIS terserah.... Intinya kita harus selalu berpegang pada satua saja, jangan gonta-ganti cari enaknya aja. heheee dan jangan sampai pula kita mengikuti arahan Ormas tertentu karena berniat ingin mengurangi jumlah hari puasa Ramadhan yaa? xixixi.
Mohon jika ada kekurangan dan kekeliruan bisa dikoreksi dan ditambahkan

sumber: https://id-id.facebook.com/SekliasInfoMenarik/posts/273163419451546

Sabtu, 19 Desember 2015

Selasa, 08 Desember 2015

BELAJAR FOTOGRAFI

 Blur Belakang
melihat ke depan (KA'15)

beraksi dalam GNPA (KA'15)

tetap fokus (KA'15)

KH. Ustuchori, MA (KA'15)

dalam penantian (KA'15)

Senin, 25 Mei 2015

Enakkan mana? Jadi Ustadzah apa Santriwati?




Enakkan mana? Jadi ustadzah apa santriwati?
Al-Mawaddah, ketika muwajjahah malam kami membentuk lingkaran kecil untuk belajar bersama. Muwajjahah berjalan dengan baik, antusias santriwati dalam belajar terlihat menggebu-gebu menyongsong ujian akhirussanah yang akan mereka hadapi sebentar lagi. Sampai akhirnya ku pandangi wajah-wajah yang tadinya berseri itu, mulai meredup oleh totokan (ngantuk di paksakan). Ngantuk itu memang ciri khas santri,,hehehe. Kemudian ku buka sesi rohah, biar otot tidak tegang, pikiran tenang, ngantuk hilang.
“ustadzah hikayah,,,” rayu mereka. “ayyu hikayatin?” jawabku. “Masi’tum ustadzah…” kata mereka. (gubrak). Panjang lebar ku cerita kan sepak terjang selama menjadi santriwati untuk memotivasi. Tiba-tiba keluar sebuah pertanyaan dari seorang santriwati. “ Ustadzah, ahsan sirtum ustadzah am tilmidzah?”(Ustadzah, enakkan jadi ustadzah atau santriwati?). Agak kaget juga mendengar pertanyaan itu. Lalu ku balas dengan senyuman.
Pertanyaan luar biasa dari anak kelas 1, yang besar rasa ingin tahunya. Menarik saya untuk menjawabnya. Pertanyaan yang membuatku kembali mengenang indahnya masa lalu dari menjadi santriwati baru, modabiroh, munadzomah, sanah nihaiyyah hingga menerima embanan amanah suci pengabdian. Tentu banyak hal yang di rasakan di kampung damai ini. Tidak hanya kenangan, tapi hingga detik ini pun, aliran kesejukan itu masih terasa. Kedamaian mendengar jaros (lonceng) yang bergelontang mengendalikan segala aktifitas santriwati. Melihat dan mendengar celotehan santriwati adalah obat pelipur hati. Sungguh tak terbayangkan sebelumnya, aku bisa bertahan sampai detik ini.
Kembali ke pertanyaan awal, enak mana? Jadi ustadzah apa santriwati?.
Memang hidup penuh pilihan adakalanya kita tunduk dengan apa yang ada di depan mata. Namun tidak sedikit pula kesempatan yang kita dapatkan untuk memilih jalan yang akan kita tempuh. Pilihan itu ada di tanganmu sendiri !. Ketika amanah itu diberikan rasanya campur aduk, antara sedih dan senang. Sedih karena tidak bisa melanjutkan kuliah di luar dan tidak bisa berkumpul dengan keluarga. Senang karena merasa terpilih dan teristimewa dengan pengabdian. Tidak hanya itu, kegalauan mulai menerpa ketika di hadapkan dengan keputusan lanjut kuliah sambil ngabdi atau pending satu tahun. Pengabdian 1 tahun atau 4 tahun. Semuanya butuh proses, butuh pertimbangan. Jika ngabdi 1 tahun bisa focus pengabdian namun telat masuk kuliah, jika ngabdi sambil kuliah harus konsekuen dengan segala tugas pondok dan tugas kuliah. Itulah proses yang mendidik kami (ustadzaat), sebagai ustadzah itu juga sebuah pendidikan.
Ustadzah dan santriwati sama-sama dididik di pesantren putri Al-Mawaddah tercinta ini. Yang membedakan adalah tugas. Ustadzah menjadi pendidik uswatun hasanah, dengan segala prosesnya untuk mencapai sandang ustadzah. Ustadzah mencurahkan semua waktu dan tenaga demi mencetak kader umat yang luar biasa. Sedangkan santriwati adalah anak didik yang dididik dan dibina agar menjadi mar’atus sholihah, alimah, dan tangguh di era global. Jika di katakana enak mana ?. Semua punya tugas dan kewajiban masing-masing, rasa enak itu tergantung pada yang menjalankan. Jika tugas ustadzah di jalankan dengan penuh keikhlasan sebagai amal jariah dan demi mencapai ridlo ilahi. Semua akan berjalan dengan enak, nyaman dan menyenangkan.
Bagiku awal pengabdian memang terasa kurang enak, karena memang bukan pilihanku dan belum meresapi sepenuhnya arti pengabdian. Namun lambat laun semakin banyak tugas pengabdian, rasa kebahagiaan itu semakin merekah. Segalanya terasa indah. Alhamdulillah. Banyak pendidikan dan pengalaman yang tidak semua orang bisa merasakannya. Dari bangun, tidur, sampai bangun lagi, semua adalah pendidikan. Jadi mudarisah, musyrifah, ibu, kakak, dan masih banyakkk lagi yang tak akan cukup jika disebutkan satu persatu. Kami dididik untuk mendidik, karena kami adalah wanita. Madrosatul ‘ula untuk agama dan bangsa. Kemajuan bangsa tergantung pada wanita. Subhanallah… (asr)

Rabu, 06 Mei 2015

UKHUWAH ISLAMIYAH SUMMER CAMP 2015 di PESANTREN PUTRI AL-MAWADDAH


COPER- Desa kecil di sebelah selatan ponorogo. Sebuah daerah yang asing bagiku bahkan kotanya pun juga asing bagiku. Tak ada saudara ataupun teman , aku datang atas hidayah yang tak pernah ku bayangkan sebelumnya. Waktu terus berjalan hingga tak terasa aku sudah berjuang di Pesantren Putri Al-Mawaddah Coper hampir 6 tahun lamanya. Aku berjuang  untuk menuntut ilmu di jalan Allah. Apa yang dulu kutinggalkan baik keluarga dan teman-teman di rumah. Kini telah tergantikan oleh wajah-wajah baru dari berbagai suku dan kebudayaan. Memang tak mudah untuk memahami karakter seseorang apalagi di tambah dengan latar belakang dan adat yang berbeda. Namun dengan ukhuwah islamiyah yang selalu ditanamkan pada diri kami, kami pun menyatu  saling bahu-membahu untuk meraih kesuksesan bersama.
Dan salah satu pemersatu kami adalah Summer Camp. Kegiatan ini barupa kegiatan pramuka khusus di ikuti oleh santriwati baru baik dari kelas 1 maupun 1 Pintas. Supaya mereka lebih mengenal satu sama lain dan meleburkan perbedaan-perbedaan. Summer Camp memberikan banyak sekali manfaat dalam diri pesertanya selain memperluas pengetahuan pramukanya, kegiatan ini juga dapat mempererat ukhuwah islamiyah. Kebersamaan ini tak kan pernah terlupakan.

Senin, 04 Mei 2015

AMANAH ITU IBADAH @ISYFAQIHA 623


Ba'da tandhiful'am, tiba-tiba terlintas sebuah kalimat cuplikan dari lirik lagu senandung Al-Mawaddah "Semakin berat smakin semangat,
Yang harus di emban". Banyak hal baru yang dapat diambil sebagai pelajaran hidup, namun juga tidak sedikit masalah baru yang muncul dan harus dipecahkan. Waktu dan pengalamanlah yang membawa seseorang ketitik tertentu, suatu titik keadaan yang tak pernah terbayangkan sebelumnya. Dari titik itulah bimbingan dan pengarahan mengalir diringi tindakan terbaik. Hingga "pergantian" itu pasti akan dialami, tentu tak mudah untuk menjalankannya namun "semangat" adalah kunci keberhasilan. Jangan merasa terbebani, jadikanlah amanah sebagai ladang ibadah.